Thursday, 26 May 2011

keracunan obat

2 days ago gw keracunan obat..

kebanyakan makan paracetamol
dan kemungkinan paracetamolnya udah kadaluarsaa...
untungnya buru2 dibawa ke UGD
pas dicek ternyata tekanan darah udah rendah bgt 90/60 (normalnya kan 120/80)
trus diinfus disuntik trus disuruh minum cairan gt deh ampe 4 botol aqua

jd penasaran efek keracunan tuh kaya apa sih 
dr info yg udah aku browsed td ini nih yg kudapat:


Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi 
parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang menstruasi, 
dan diindikasikan juga untuk demam. 
Obat ini menjadi pilihan analgesik yang relatif aman bila dikonsumsi dengan benar sesuai 
petunjuk penggunaan. Parasetamol boleh dikonsumsi tidak lebih dari 5 hari untuk anakanak, dan 10 hari untuk dewasa. dosis normal untuk anak 60 -500 mg, sedangkan untuk dewasa 500 mg – 1 g


Penggunaan parasetamol adalah antara lain untuk mengatasi rasa 
sakit, sementara rasa sakit itu sendiri adalah manifestasi dari suatu penyakit, artinya obat 
ini hanya menghilangkan gejala yang timbul tanpa mengobati penyebab penyakit.  
Banyak kesalahan dalam mengkonsumsi obat ini, karena  obat digunakan secara terus 
menerus untuk menghilangkan  gejala rasa sakit yang timbul. Misalnya seorang yang 
sering merasakan sakit kepala, untuk  mengatasi sakit kepalanya selalu minum 
parasetamol. Bila gejala yang dirasakan tidak hilang setelah efek obat habis, yang 
bersangkutan seharusnya segera konsultasi ke dokter untuk dicari penyebab penyakitnya 
sehingga dapat diobati penyebabnya dengan benar.  
Karena parasetamol merupakan obat bebas yang digunakan secara luas oleh masyarakat, 
maka kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penggunaan yang dapat menyebabkan 
keracunan parasetamol cukup besar, sehingga dirasa perlu  untuk memberikan informasi mengenai cara untuk mengatasi keracunan  parasetamol  sebagai edukasi untuk 
mencegah terjadinya keracunan obat tersebut. 
Farmakokinetik 
Parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum 
puncak dalam waktu 30 – 120 menit. Adanya makanan dalam lambung akan sedikit 
memperlambat penyerapan sediaan parasetamol lepas lambat. 
Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir seluruh jaringan tubuh. Lebih kurang 
25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma. 
Waktu paruh parasetamol adalah  antara 1,25 – 3 jam. Penderita kerusakan hati dan 
konsumsi parasetamol dengan dosis toksik dapat memperpanjang waktu paruh zat ini. 
Parasetamol diekskresikan melalui urine  sebagai metabolitnya,  yaitu asetaminofen 
glukoronid, asetaminofen sulfat, merkaptat dan bentuk yang tidak berubah. 
Mekanisme Keracunan 
Sebagaimana juga obat-obat lain, bila  penggunaan parasetamol tidak benar, maka 
berisiko menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Parasetamol dalam jumlah 10 – 15g 
(20-30 tablet) dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati dan ginjal. Kerusakan 
fungsi hati juga bisa terjadi pada peminum alkohol kronik yang mengkonsumsi 
parasetamol dengan dosis 2g/hari atau bahkan kurang dari itu. 
Keracunan parasetamol disebabkan karena akumulasi dari salah satu metabolitnya yaitu 
N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI), yang dapat terjadi karena overdosis, pada pasien 
malnutrisi, atau pada peminum alkohol kronik. 


Keracunan parasetamol biasanya terbagi dalam 4 fase, yaitu: 

Fase 1 : 
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, perasaan tak menentu pada tubuh                   
yang tak nyaman (malaise) dan banyak mengeluarkan keringat. 

Fase 2 : 
Pembesaran liver, peningkatan bilirubin dan konsentrasi enzim hepatik,                   
waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan  darah menjadi bertambah lama                   
dan kadang-kadang terjadi penurunan volume urin. 

Fase 3 : 
Berulangnya kejadian pada fase 1 (biasanya 3-5 hari setelah munculnya gejala awal) serta 
terlihat gejala awal gagal hati seperti pasien tampak kuning karena terjadinya penumpukan 
pigmen empedu di kulit, membran mukosa dan sklera (jaundice), hipoglikemia, kelainan 
pembekuan darah, dan penyakit degeneratif pada otak (encephalopathy). Pada fase ini 
juga mungkin terjadi gagal ginjal dan berkembangnya penyakit yang terjadi pada jantung 
(cardiomyopathy) 

Fase 4 : Penyembuhan atau berkembang menuju gagal hati yang fatal.


obaatnyaa:
Acetylcystein merupakan antidot yang digunakan bila hal ini terjadi. Acetylcystein merupakan derivate asam amino. Pada dosis toksik, metabolisme paracetamol yang dibantu oleh enzim cytochrome P450 di hati menghasilkan intermediet reaktif yang tinggi NAPQI. Acetylcysteine bertindak sebagai pemakan intermediate reaktif ini sehingga dapat melindungi hati dari kerusakan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari acetylcysteine
  • Efektif untuk keracunan akut, mengurangi resiko kerusakan hati
  • dapat menyebabkan bronkospasme; hati-hati jika pasien mempunyai riwayat asma. Reaksi ini adalah anapilaktoid. Dianjurkan untuk mengurangi laju awal dari infuse pada pasien asma
  • Keamanan acetylcysteine pada kehamilan secara normal belum ditentukan, tapi pada banyak kasus keracunan paracetamol lebih banyak/berat resikonya.
  • Penyesuaian dosis biasanya tidak diharuskan pada insufisiensi hati atau ginjal
Keracunan paracetamol akut
  • Acetylcysteine menggantikan glutathione terdeplesi  yang menghasilkan metabolit reaktif
  • Gunakan secara tepat dan dalam waktu 8 jam, acetylsisteine cukup efektif dalam mencegah kerusakan hati secara signifikan. Manfaat ini sangat berarti bila seseorang yang mengalami overdosis diserahkan dalam waktu 24 jam setelah overdosis,tetapi jika telat akan mendapatkan resiko kerusakan hati yang lebih besar.
  • Konsentrasi paracetamol yang diambil lebih cepat 4 jam setelah overdosis dapat menyesatkan. (data tidak akurat untuk menggambarkan konsentrasi puncak di jaringan).
  • Konsentrasi plasma paracetamol yang diukur lebih dari  24 jam setelah ingestion tidak berarti,.dan tidak bias digunakan untuk menentukan pengobatan.
  • Rejimen pengobatan berdasarkan intravenous loading dose, diikuti oleh continous infusion
  • Jika  acetylcysteine tidak ada, berikan metionin oral.
  • Jika pasien memburuk, kontak unit liver untuk penanganan lebih cepat. Mereka akan memberikan infuse lanjutan.

kmrn waktu aku sakit tuh selain infus, suntik dan cairan juga dikasi flumuicil yg 200 mg (warna ijoo nih), diminum juga pas udah pulang ke rumah..sehari 2 kali..pagi dan sore..

 sumber antara lain : http://widiaalina.wordpress.com/2009/08/28/bila-keracunan-paracetamol/ taken from
  1. Richards, Duncan; Jeffrey, aronson, Handbook of practical drug therapy, 1st Edition,  Oxford University Press, 2005
  2. Oxford Handbook of Accident and Emergency Medicine, 2nd Edition,2005
  3. yg satuu lg lupaa,,,maapkan saya yg punya sumber yaa ga dicantumin disini :( keburu ketutup webnya..

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...